Selamat Datang & Terima Kasih atas Kunjungannya - Rahmat Bin Shadiq Fadhlallah -

Minggu, 14 Agustus 2016

Kotagede : Akar Mataram Islam ( Behind The Art)



Sebelum menggambar ini saya sempat kepikiran untuk menggambar pemakaman Baqi’ Al-Gharqad di Madinah, pemakaman Jannatul Ma’la (Sayyidah Khadijah-Ummul Mukminin Radhiyallahu anha ) di Makkah  dan  pemakaman Zanbal: pemakaman para waliyullah di Hadhramaut. Serius, saya sudah riset tentang manuskrip gambar-gambar makam Baqi dari ilustrasi-ilustrasi miniatur yang ada di kitab Futuh al-Haramayn karya Syaikh Muhyiddin Lari, googling foto-foto lama pekuburan Ma’la, juga ngamatin dengan jeli Google Earth untuk mengira-ngira letak makam-makam penting di Zanbal. Kertas sudah disiapkan dan beberapa scan manuskrip sudah diprint sebagai panduan (mestinya ini nggak perlu). 

                Tapi nasib berkata lain (1)
                Saya teringat bahwa sejak beberapa tahun lalu setelah saya ziarah ke Makam Para Raja Mataram Islam di Imogiri, saya sudah berazam akan membuat ilustrasi makam suci itu. Cat airnya harus dicampur air yang saya minta dari gentong-gentong keramat di sana dan untuk keperluan itu saya masih menyimpan baik-baik air tersebut demikian pula buku panduan ziarah yang saya beli di sekitaran makam karena ada bagian buku yang memaparkan denah makam berikut siapa saja yang dimakamkan di situ.  

                Tapi nasib berkata lain (2) 
                Sebelum bulan suci Ramadhan kemarin saya sempat membaca beberapa buku tentang keraton, Perang Jawa, Kesultanan Mataram Islam, pusaka-pusaka, perbukuan di lingkup keraton Jogja, dan tema-tema lain sekitar itu (jangan tanya tentang Kidung Lelembut, saya nggak tahu). Ditambah setahun lalu polemik tentang suksesi Keraton Jogja membuat banyak media lokal mengangkat kembali tema-tema seputar Panembahan Senopati dan Ki Ageng Pemanahan – Semoga Allah merahmati beliau berdua – sehingga  animo masyarakat untuk menggali lebih dalam tentang sejarah Keraton Jogja lumayan ngetrend waktu itu. Saya juga demikian, ikut trend :v . Sampai kemudian saya berkesimpulan bahwa ada yang lebih tua, lebih sakral, lebih keramat, lebih suci, lebih dihormati, dan lebih dimuliakan jauh sebelum terjadinya palihan nagari atau terpecahnya Kesultanan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. 

                Kotagede, dimana para leluhur pendiri Mataram Islam beristirahat dalam damai. 

                Tahun lalu saya sempat berkeliling di sekitar komplek makam itu bersama Miko, Huft, Shafa, dan Ruqo,  pada saat menunggu buka puasa bersama di rumah Ruqo seputaran makam Hastarengga dan komplek Watu Gilang Kotagede. Saat itu ya cuman jalan-jalan biasa, My Njiarah My Adventure semacam itu. Ingatan tentang hal itu saya rasa belum cukup untuk menggambar. Saya butuh riset sehingga saya ingat bahwa beberapa tahun lalu untuk keperluan sketsa saya juga kesana sama Fahmi. Cari folder fotonya dan googling sana-sini. Selain itu saya juga bertanya ke Gratama Pustaka dimana saya bisa mengakses peta atau dokumen lawas tentang pemakaman Kotagede di zaman Raffles, atau paling nggak zaman Belanda lah. Selain itu saya juga sangat terbantu dengan buku Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia karya Emile Leushuis.  

                Akhir-akhir bulan Sya’ban kemarin saya mulai nyeket gambarnya dan selama bulan suci Ramadhan (Ramelan) mengerjakan pewarnaan dan perbaikan sana-sini. Saya dikritik Huft saat pengerjaan gambar ini karena dirasa mengenakan pakaian yang kurang pantas saat mengerjakannya.
                “Yo le klambenan ki sing apik!”
                Saya nyengir karena saya nggak mau gambar ini jadi bernilai ada mistik-mistiknya dengan menyertakan aturan apapun yang berhubungan dengan kesakralan seperti penulisan banyak karya sastra Jawa yang dikeramatkan. Selain karena menurut saya dalam pewarnaan langitnya saya sedikit menyimpang dari aturan dan tata cara pewarnaan para guru miniatur, saya rasa gambar ini juga belum bisa dikatakan sempurna dan bagus. 


      Walhasil, gambar ini diselesaikan pada hari keramat menurut penanggalan Jawa, pada malam Jemuwah Kliwon (Jum’at Kliwon) , 23 Syawwal tahun Jimawal 1949/ 1437 hijrahe Kanjeng Rasulullah Shallallaahu alaihi wa aalihi wa sallam, mongso Kasa Kartika ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

            Sebulan lebih sedikit. Haduh.

Jumat, 03 Juni 2016

Majelis Minum Kopi (Behind The Art)

Akhirnya miniatur tentang minum-minum kopi selesai juga. 

Sebenarnya sketsa gambar ini sendiri sudah digarap dari tahun lalu (wogh!) yang terbengkalai karena saya sok sibuk dengan banyak kegiatan yang entah kenapa semuanya ditarget dengan tenggat waktu yang edan-edanan. Inspirasinya dari sebuah syair tentang kopi karya seorang ulama kenamaan asal Yaman: Al-Habib Abu Bakr bin Abdulloh al-Idrus rahimahullah ta'ala. 

Beliau mengungkapkan pujiannya pada sensasi ngopi-ngopi dengan untaian syair yang salah satunya berbunyi:

قَهْوَةُ الْبُنِّ يَا أَهْلَ الْغَرَامْ سَاعَدَتْنِيْ عَلَى طَرْدِ الْمَنَامْ
وَ أَعَانَتْنِيْ بِعَوْنِ اللهِ عَلى طَاعَةِ اللهِ وَ الْعَالَمُ نِيَام
قَافُهَا الْقُوْتُ وَ الْهَاءُ الْهُدَى وَاوُهَا الْوُدُّ وَ الْهَاءُ هِيَامْ
لاَ تَلُوْمُوْنِيْ عَلَى شُرْبِيْ لَهَا إِنَّهَا شُرْبُ سَادَاتٍ كِرَامٍ


“Adapun kopi, wahai orang-orang yang asyik dalam cinta sejati dengan-Nya, membantuku mengusir kantuk
Dengan pertolongan Allah, kopi menggiatkanku taat beribadah kepada-Nya di kala orang-orang sedang terlelap.
Qahwah (kopi), huruf qaf-nya bermakna quut (sayur hijau yang menyenangkan), ha-nya adalah hudaa (petunjuk), wawu-nya adalah wud (cinta), dan ha-nya adalah hiyam (pengusir kantuk).
Janganlah kau mencelaku karena aku minum kopi, sebab kopi adalah minuman para junjungan yang mulia"

                Selain itu saya juga terpacu untuk menggambarkan situasi ngopi setelah membaca-baca kembali sebuah artikel tentang sejarah perkafean di dunia Islam yang dimuat dalam Aramco World vol 6 no. 3 tahun 2013 silam yang disebut-sebut sebagai pelopor jejaring sosial bagi masyarakat muslim. Artikel itu memuat sebuah gambar miniatur yang mengilustrasikan suasana kafe pada zaman Dinasti Utsmani –dimana interaksi sosial terjadi dalam suasana yang hangat. Persis seperti yang digambarkan oleh Jason Goodwin mengenai kafe-kafe di Istanbul dalam serial detektif Yashim yang hidup di era Utsmani. 

                Karena saya tidak ingin menggambarkan suasana kafe (karena sudah ada di miniatur itu) maka saya mencoba menggambarkan suasana majelis agama dengan suguhan kopi yang mana sampai hari ini di Yaman sendiri acapkali disuguhkan gelas-gelas kecil berisi kopi bagi para jamaah yang hadir. Sensasi ngopi sambil menikmati suasana ilmiah pembahasan kitab-kitab sampai hari ini juga masih dilestarikan para santri di pesantren-pesantren Nusantara, khususnya Jawa, dengan sebelumnya mengirim pahala bacaan alfatihah yang ditujukan khusus kepada para syaikh penemu dan pelestari budaya ngopi dengan menghaturkan tartibul-faatihah lisyurbil-qahwah (Pembacaan Al fatihah untuk Minum Kopi).  

                Jadi, angkat gelas kopinya, bismillah, dan seruputlah dengan nikmat. 

ثم اعلم ايها القلب المكروب أن هذه القهوه قد جعلها اهل الصفاء مجلبة للأسرار مذهبة للأكدار

"Kemudian, ketahuilah duhai hati yang merana, bahwa orang-orang saleh yang suci hatinya telah menjadikan kopi sebagai pengundang akan datangnya cahaya dan rahasia Tuhan, juga penghapus kesusahan"
(Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami rahimahullah)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...